7.06.2009

For Friend

For Friend

Salah seorang teman sewaktu SMA mengirimkan pesan melalui Facebook, pesan tersebut seperti ini:

Ini dia orangnya yang pakai jaket di sebelah saya...... :D

Photobucket

Bukan deng, ini yang asli
Adit
_________________________________________________________________________________
Teman-teman smua yg ak cintai...
Bentar lg khan ak mau ultah yg ke 23..ak harap kalian bs ngasih kado di hari yg bersejarah buat ak itu. Ga hrs dgn barang tp justru dgn puisi atau kalo ga tulisan tentang diri seorang Aditya Wibawa dimata kalian...Bs juga kesan-kesan slama bergaul dgn seorang Aditya Wibawa.
Ga hrs hal-hal yg baik atau positif..tp kl emng ada hal-hal yg negatif yg mgkn krng berkenan dihati sewkt kt bergaul jg bs diungkapkan lewat moment ini.
Ak harap bs dikirimkan lewat fesbuk aja cukup biar ak bs tampilin smuanya dicatatan ak dan bs abadi...
Hal ini akan ak jadiin sebuah ajang buat introspeksi diri dgn harapan agar dihari2 mendtg bs lbh baik lg..amien...

Sebelumnya ak ucapin makasih byk ya tmn2ku..
Ak merindukan kalian smua..dan Insya Allah (edited: red) ak ga akan pernah lupa dgn kalian smua...dimana dulu kt prnh bersama2 berkembang mnjadi pribadi yg skrg ini...
Doaku mnyertai kalian smua..dan ak harapkan doa yg sama untukku..amien.....

Copy from: Message
________________________________________________________________________________
Pesan tersebut benar-benar mendobrak perasaan, mengingatkan kembali apa arti “Teman” dalam kehidupan ini. Terlepas dari itu saya sangat bangga sekali dengan apa yang menjadi bagian dari pesan tersebut “Mau menerima saran atau kritik yang bisa untuk instrospeksi diri, pembelajaran untuk masa yang akan datang", semoga hal yang sama dapat dilakukan oleh kita semua.
Amin.

________________________________________________________________________________
Hmmmm..... Mulai dari mana yah..!
Photobucket
________________________________________________________________________________
Aditya Wibawa. S. P. in my eyes

Aditya Wibawa Sampurna Putra als Adit als Aditya, mungkin kesan pertama kali orang ketemu do’i termasuk juga saya akan tersirat seperti ini; orang yang lumayan intelektual, rapi secara fisik, lugas, kurang supel dalam bergaul, sedikit sombong dan memilih dalam berteman.

Tapi, dalam perjalanan pertemuan bersama do’i banyak anggapan itu yang salah, do’i sangat supel, mudah bergaul dan tidak memilih teman. (yang baik-baik dulu). Banyak hal baru yang saya dapatkan dari do’i, dan tentunya juga bisa buat saya ambil sebagai pelajaran. Tapi lagi-lagi do’i bukan orang yang suka humor padahal saya termasuk “people with high taste of humor”. Jadi, sering nggak nyambung gitu dech kalo kepanjangan ngobrolnya. Huahaha.
Dalam hal keseharian do’i tampaknya berusaha menjadi yg terbaik bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Saya ambil contoh dalam belajar do’i terbilang tekun dalam mendalami pelajaran baik formal maupun informal. Doi’i pernah bercerita bahwa orang tuanya sangat berharap banyak padanya, dan do’i ingin membuktikan kepercayaan mereka tidak salah. Tapi, jeleknya nih kalau urusan contekan atau berbagi informasi mungkin teman-teman akan setuju kalau saya menggunakan istilah “Pelit”. Hehehehe... Bener kan? Masih nggak yah sampe sekarang? Mudah-mudahan sudah berubah.

Do’i termasuk orang yang cukup teguh memegang prinsip, karena bagi do’i seorang manusia terutama pria akan dipandang kalo dia memegang prinsip, apapun itu, bisa saya tafsirkan sedikit menurut pandangan do’i seorang pria yang memegang prinsip akan dipandang mempunyai commit dan konsekuen terhadap ucapan dan perbuatannya. Saya cukup salut dengan pendapat dan prinsip do’i tersebut. Tapi jeleknya (loh, kok masih ada jeleknya? Ya iyalah), do’i jadinya lupa dan terkadang cenderung tidak mau mendengarkan saran atau kritik dari orang lain dalam hal ini saya termasuk salah satu orang yang termasuk dalam kelompok itu (Hikz... hikz... jadi sedih). Tapi sekarang saya bangga dengan do’i. Saya ingat dulu dalam “Perdebatan Kecil” kami,Photobucket saya sempat melontarkan sedikit nasehat walaupun dengan nada sedikit emosi (maklum manusia biasa) yang bisa diartikan seperti ini “Kita boleh Dit punya prinsip tapi terkadang juga kita harus memperhatikan permasalahannya, ‘tak selamanya pendapatmu benar, mendengarkan saran orang lain juga tidak ada salahnya sepanjang itu benar. Kamu harus menelaah dulu saran orang itu baru membuat keputusan”. Itu dibuktikannya sekarang dengan mengirimkan pesan seperti yang saya rewrite lagi di atas. Satu kesimpulan pendek yang saya ambil sekarang “Do’i sudah berubah dalam hal ini”.


Hati dan sekitarnya (saya ampe bingung mau kasih judul apa bahasan kali ini, ya udah saya pakai judul itu *judul yang aneh*). Emang urusan hati ini emang urusan yang paling sulit. Menyitir sebuah “word fragment” dari salah satu buku yang saya baca “Cinta terkadang lebih kuat dari batu karang dan bisa menghancurkan kepribadian seseorang”. Saya sangat setuju dengan pendapat tersebut karena memang urusan satu ini sangat susah ditebak, membutakan seseorang, mengabaikan akal sehat. (loh, kok jadi membahas masalah ini sih, jadi panjang, apa hubungannya?).


Oke, kembali lagi ke topik, yang mau saya ungkapkan ialah bahwa setegar-tegarnya seorang Adit, juga akan menjadi rapuh kalau berurusan masalah ini. Saya ingat betul dulu saat do’i fall in love sama seseorang cewek (edited: red), begitu rapuhnya do’i dulu ketika mengalami apa yang namanya “fall in love”. Masih terasa segar juga dalam ingatan saya ketika kelas 2 SMA (saya duduk persis di belakang do’i: red) ketika pelajaran berlangsung ternyata do’i lagi asyik-asyiknya bikin puisi mungkin buat “Si Dia” kali yah... Disaat yang bersamaan sang guru yang terkenal cukup galak memperhatikan gelagat do’i, sebuah pertanyaan yang cukup sulit (bagi saya yang memperhatikan apalagi bagi do’i yang tidak memperhatikan) dilancarkan sang guru kepada do’i. Tak pelak lagi, pertanyaan yang saya anggap sulit tersebut membuat do’i gelagapan setengah mati. Untungnya ada Yudha, Anin, dan Fitri sang master Kimia di kelas cepat tanggap menghadapi masalah. Kalau kejadian itu terjadi sekarang mungkin saya dan teman-teman akan tertawa selebar-lebarnya. Saat itu kami memasang wajah penuh simpatik memberikan support buat do’i (pura-pura semua tuh Dit, terbukti pada waktu istirahat semua tertawa mengingat kejadiannya). Huahahaha..... Peace. Untungnya saya dan Martha bukan tipe mulut ember yg menceritakan apa yang do’i tulis saat itu.

Photobucket

Point yang mau saya ambil disini ialah keika do’i fall in love prinsip do’i yang saya beberkan diatas tadi seakan hilang dan sirna, huehehehe.


Generally, do’i di mata saya baik, Cuma memang tidak ada manusia yang sempurna. Tentunya masih banyak kesalahan-kesalahan yang bisa kita perbaiki apabila kita mau mendengarkan saran dan kritik orang lain yang disampaikan kepada kita baik itu melalui lisan atau bentuk apapun. Saya sangat mengapresiasi sekali apa yang do’i lakukan saat ini.


Kalau saya menggunakan standart tertinggi penilaian kepribadian dan sikap manusia dengan point 80. kenapa 80? Karena tidak ada manusia yang sempurna. Berdasarkan beberapa kategori tadi Sdr. Aditya Wibaya Sampurna Putra mendapatkan point 63. Congratulation! (Kayak lembaga kajian psikologis gwe :D).


Akhirnya, saya ucapkan selamat hari ulang tahun yang ke-23 Photobucket buat my friend, Adit, semoga dengan bertambahnya umur bertambah kedewasaan, bertambah kejujuran, bertambah ibadah, bertambah pengetahuan, bertambah ilmu, bertambah rezeki yang halal, kuliah cepet selesai, dan bertambah yang lain yang baik-baik.

Dan semoga pula dengan berkurangnya umur ini menjadi berkurang pula kesombongan, berkurang rasa angkuh, berkurang kejelekannya, berkurang apa lagi yah? Pokoknya berkurang yang jelek-jeleknya. Eits, satu lagi berkurang jerawatnya (ada nggak yah?) huehehehe..


23 tahun lalu ‘tak terbayang suka cita orang tuamu melihat anaknya lahir, turun ke dunia, sebagai amanah yg dititipkan Allah kepada mereka, Semoga suka cita itu dapat loe tampilkan kembali dan dapat berlanjut dari sekarang sampai masa yang akan datang.

Amin Ya Robbal Alamin.

Sebuah Puisi pendek akan saya kirimkan special for you, tapi saya masih bingung juga ini puisi atau lagu, terserah deh mau yang mana. Kalo dianggap lagu menyanyikannya dari C, Am, Dm ke G ke C lagi,, (kayak lagu)..

Photobucket
Photobucket

SAHABAT

Sahabatku adalah tetesan embun pagi yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari
dalam kesejukan

Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
hingga mampu menerangi gulita semesta
dalam kebersamaan


Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan
yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
hingga mampu memberikan keteduhan
dalam kedamaian

Wahai angin pengembara kabarkanlah kepadaku tentang dirinya
Sahabatku adalah kumpulan mata air dari telaga suci
yang jernih mengalir tiada henti
hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri
dalam kesegaran

Sahabatku adalah derasnya hujan yang turun
yang menyirami setiap jengkal bumi yang berdebu menahun
hingga mampu membersihkan mahkota bunga dan dedaun
dalam kesucian

Sahabatku adalah untaian intan permata
yang berkilau indah sebagai anugerah tiada tara
hingga mampu menebar pesona jiwa
dalam keindahan

Wahai burung duta suara
ceritakanlah kepadaku tentang kehadirannya

We need friends for many reasons,
all throughout the season.
We need friends to comfort us
when we are sad,
and to have fun with us when we are glad.
We need friends to give us good advice,
We need someone we can count on,
and treat us nice.
We need friends to remember us
one we have passed
sharing memories that will always last

Hmmm, sepertinya cuma ini yang bisa saya tulis, mungkin ini hanya sedikit penilaian saya tentang seorang Aditya dalam kebersamaan kita, tentang kebaikan yang mungkin masih banyak yang saya tidak tahu, tentang kekurangan yang berlebihan saya tahu. Banyak hal yang sudah dan akan kita pelajari dan lewati untuk menjadi pelajaran dalam hidup dalam mencapai suatu tujuan akhir “Ridho Allah”.

Photobucket
Goooo.................!!!!
Photobucket
Writed By : Deni Arfian
To : Aditya Wibawa Sampurna Putra


7.04.2009

Wong Deso & Pengadilan

Suatu hari seseorang dari desa diadili di Kantor Pengadilan yang ada di Kota.

"Saudara Terdakwa anda terbukti bersalah , dan dihukum 3 bulan penjara, Apakah Saudara Terdakwa akan naik banding "

"Tidak pak , saya jalan kaki aja."

"Hahahaha...!@#$!!$$%!!!?"

Hakim dan Pencuri

Ada 3 orang pencuri diadili di Pengadilan. Ketiganya disidang bersama-sama di hadapan Hakim.

Hakim : "Apa Kesaksianmu???"(bertanya pada pencuri 1)

Pencuri 2 : "Tidak Bersalah Pak!!!"

Hakim : "DIAM!!!, Aku tidak berbicara padamu...!!!"



Pencuri 3 : "Tapi Pak, saya kan tidak bicara apa-apa..."

Hakim : "!!!!?????#$!!!"

Contact Me

Informasi Kontak
Email:

Nomor Ponsel:
+6281278366863

Lainnya:
0711432324

Alamat Sekarang:
Jl. Perintis Sukamoro, Palembang, Indonesia

Yahoo:
deni_arfian




Profile

Informasi Umum
  • Nama : Deni Arfian
  • Jenis Kelamin : Laki-Laki
  • Tempat / Tanggal Lahir : Palembang, 16 Oktober 1986
  • Kota Asal : Palembang, Indonesia
  • Status Hubungan : Lajang
  • Mencari : Persahabatan
  • Agama : Islam
Informasi Pribadi
Aktivitas:
05.00; Bangun, ngidupi tv nonton berita terutamo bola kaki.
06.00; mandi, tapi kalo semalem ujan absen dulu.
06.30; Makan, ngopi, dll.
07.00; Langsung buka Warnet, amo counter, jualan deh sampe malem diselingi nyingok udang2 kecilku.
23.00; Tidur... tapi kadang2 kalo warnet masih rame agek dulu sambil fb-an ngawani pelanggan. sampe pagi.

Minat:
Memajukan F@mily Computer, Network and Cellular, biar bisa besar dan bernama. Amin

Musik Favorit:
Pop, dan tergantung dengan suasana hati, ceile kadang kadang denger lagu Beathoven jugo, lemak nian.

Acara TV Favorit:
Semua karya anak negeri, dan karya-karya asing yang tentunya sealur dengan kebudayaan bangsa Indonesia

Film Favorit:
Mafia wars, Harry Potter, Perempuan berkalung Sorban, Gie.

Buku Favorit:
Conan the detective

Kutipan Favorit:
"When you sleep, think what will you do tomorrow"

Tentang Saya:
Orang yang cukup simpel g banyak neko-neko.,,,

Kato Ayah; Deni tu baik, tidak sombong, pendiem, sayang orang tua, pekerja keras, lumayan ganteng, tapi jeleknya mudah marah... (Manusia)

Kato Ibu; Samo cak kato ayah, coz Ibu pekerjaanya turut suami, yah

Informasi Kontak
Email:

Nomor Ponsel:
+6281278366863

Lainnya:
0711432324

Alamat Sekarang:
Jl. Perintis Sukamoro, Palembang, Indonesia

Yahoo:
deni_arfian

Facebook : Klik disini

Back to Home

Wong Deso dan Pelayan Toko

Suatu hari, seorang pemuda masuk ke dalam toko elektronik. Seorang pelayan toko langsung saja menghampirinya dan bertanya.

Pelayan: "Ada yang mau dibeli tuan?"

Pemuda : "Oh.. Ada. Saya mau beli sesuatu untuk ortu saya. Jadi saya lihat-lihat dulu ya.."

Pelayan: "Silakan..."

Beberapa menit kemudian pemuda itu bertanya kepadanya.

Pemuda : "Eh, yang sebelah sana itu berapa?"



Pelayan: "Yang mana tuan?"

Pemuda : "Itu tu, TV yang sebelah sana."

Pelayan: "Hah? TV mana tuan?"

Pemuda : "Aduh.. Mata bapak ada dimana sih? Itu loh di sampingnya kulkas."

Pelayan: (Setelah melihatnya sekali lagi) "Hahaha...Maaf kami tidak menjualnya kepada orang bodoh."

Pemuda : "Hei..hak apa anda berkata seperti itu kepada saya."

Pelayan: (sambil menahan ketawa, dia pun berbicara) "Karena yang anda tunjuk tadi bukanlah TV, melainkan oven."

Pemuda : "@#$...!!!??" (langsung lari keluar toko)

Seorang Pengantin pria yang berasal dari daerah Jawa Tengah, tiba-tiba menghentikan langkahnya saat ingin dipertemukan dengan pengantin wanitanya.

Sang pengantin pria tampak terkejut melihat tulisan di depan pintu yang berbunyi : "Sugeng Rawuh", yang artinya "Selamat Datang".


Sang pengantin pria betanya kepada penghulu yang menanganinya : "Pak Penghulu, jangan-jangan saya salah masuk nih."

"Kenapa Anda bilang begitu ?"

"Nama saya "Sugeng Santoso", kenapa disitu ditulis "Sugeng rawuh" ? ! Jangan-jangan pelaminan itu bukan untuk saya ?"

Maka Pak Penghulu dan para undangan lainnya tertawa lebar.

Tono dan Nyamuk Nakal

Si Tono yang kelelahan sesampainya di rumah berniat untuk cepat-cepat istirahat Setelah membersihkan diri si Tono langsung bergegas untuk tidur.Beberapa saat kemudian si Tono sudah terlelap. Tapi tiba-tiba datanglah seekor nyamuk yang mondar-mandir di telinga si Tono

NGIIIINNNNGGGG....!!!!!

Awalnya si Tono cuek dan hanya membalikkan posisi tidurnya untuk 5 menit aman....Untuk kedua kalinya nyamuk itu datang mengganggu lagi, tidak menyengat tapi hanya mondar-mandir di depan telinga si Tono

NGIIINNNNGGGGG....!!!!!

Tono coba mengusirnya dengan tangan.... untuk 5 menit aman....Nyamuk itu datang kembali ketiga kalinya, dan si Tono sangat geram lalu Ia bangkit dari tempat tidurnya lalu duduk di kursi kamarnya.


Si Tono memikirkan suatu pembalasan buat nyamuk itu.....!!!! selagi Tono berpikir, nyamuk tadi hinggap di paha si Tono. Dan kali ini nyamuk ini mungkin udah lapar dan haus sehingga di menghisap darah si Tono.

Si Tono terpikir sebuah ide!!!! si Tono tidak memukul atau membunuh nyamuk itu, tapi dibiarkan nyamuk itu makan sampai kenyang.

Setelah kenyang nyamuk ini terkena syndrom yaitu abis makan-kenyang-ngantuk

Si Tono memperhatikan dengan seksama dan disaat nyamuk itu mulai terlelap dengan ditandai kepala nyamuk itu mulai ngangguk-ngangguk gak jelas, si Tono memanfaatkan situasi ini.

si Tono mulai mendekat ke nyamuk itu...Semakin dekat....Tambah dekat....Dan...

NGGGIIIIIINNNNNNNGGGGGG........!!!!

si Tono Berteriak sekeras mungkin di Telinga si Nyamuk!!!!!!!!

lalu berkata,"Rasain lu!!! Emang enak apa lagi tidur trus di teriakin di telinga??"

Sambil Tertawa Puas...."Hahahaha...?@#$!!!????"

Kakek yang Aneh

Suatu hari ada seorang kakek-kakek yang lagi nangis sambil menghadap tanaman sayurannya,tiba-tiba datang cucunya yang baru pulang sekolah.

Sicucunya kaget mendapatkan sang kakek sedang nangis sendirian di kebun samping rumahnya itu maka ditanyalah sang kakek oleh cucunya tadi.



Cucu : "Kek,kenapa nangis disitu ?"

Kakek: "Ini cu,cangkul kakek hilang."

Cucu : "Kapan hilang nya kek?"

Kakek: "Besok lusa?"

Cucu : "Loh kok kakek nangisnya sekarang??!"

Kakek: "Mumpung lagi sempat..."

Cucu : "???!!!........"

Pemalas dan Pencuri

Disatu desa hiduplah seorang yang amat miskin..Kenapa miskin? mungkin karena dia malas? Ya benar dia memang amat pemalas.. setiap harinya hanya tidur dan tidur makan pun hanya mengharap iba dari para tetangga.

Suatu hari lagi asik-asiknya tiduran tiba-tiba ada suara berisik dari arah pintu pondoknya sipemalas berkata dalam hati "hmmm..Siapa lagi sich malam-malam gini? Ah biarin aja paling-paling juga maling..",Ia pun melanjutkan tidurnya.

Selang beberapa menit ia mendengar lagi suara berisik kali ini jelas sekali suara langkah kaki berjalan dari dapur menuju pintu depan..Sipemalas kembali berkata dalam hati.."Tuh kan pasti maling nya sudah mau pergi.."


Kemudian dengan setengah berteriak sipemalas berkata, "Hai maling kalo keluar jangan lupa tutup pintu..!"

Si maling yang memang sudah dongkol karena tidak menemukan apapun dirumah itu menjawab dengan seribu dongkol.."Dasar kau pemalas nggak ada satupun barang berharga yang kau punya..!"

Sipemalas pun menjawab dengan santai disertai mengantuk.."Ngapain aku susah-susah kerja cari duit buat beli barang mewah kalau ujung-ujungnya kau juga yang mencuri..."

Si maling, "...?>!@#!!!!!..."

Debat Sidang Skripsi

Pada suatu hari seorang mahasiswa sedang mengikuti ujian sidang akhir semester yang diuji oleh 3 penguji,pada saat penyampaian materi,mahasiwa tersebut ditegur oleh penguji 1 supaya jangan terlalu cepat menyampaikan materinya.

Kemudian mahasiswa tersebut berkata: "LEBIH CEPAT LEBIH BAIK!!!"

Penguji 1 berkata: "Lebih cepat tapi tidak tepat bagaimana?"



Penguji 2 berkata: "LANJUTKAN...!!!!"

Akhirnya penguji 1 dan penguji 2 terlibat debat yang sangat sengit, penguji 3 pun berkata: "MERDEKA!!!!"

Penguji 1 dan 2 : "!!!????@#$"

Cara Masuk Surga

Pada suatu hari ada seorang guru yang bertanya kepada muridnya

Guru : "Anak-anak pak guru ini sudah tua , pak guru sudah banyak berbuat baik kepada kalian.Apakah pak guru ini bisa masuk surga ?"

Murid: "TIDAK!!!!!!!"

Guru : "Lho mengapa tidak bisa ? pak guru kan sudah sering berbuat baik kepada kalian."



Murid: "TIDAK!!!!!!!"

Guru : "Kalau begitu pak guru akan bertanya kpada kalian.bagaimana caranya agar pak guru dapat masuk surga ?"

Murid: "caranya pak guru harus meninggal dunia dulu baru bisa masuk surga"

Guru : "Dasar kalian kurang ajar !!!!!!"

7.03.2009

Guru dan Murid

Seorang murid yang ternyata sering membolos dipergoki oleh ibunya.

Ibunya meminta agar si anak menceritakan alasan tidak masuk sekolahnya.

Ibu : "Nak! Kamu harus jujur sama ibu. Apa penyebab kamu sering membolos sekolah?!"

Anak: "Ibu, saya tidak tega memberitahukan alasan saya kepada ibu.....,"

Ibu : "Apa-apaan kamu ini?? Ah! Benar-benar alasanmu saja! Cepat!!! Beritahukan kepada ibu!"



Anak: "Bbaikk, ibu... Setiap hari ibu guru meminta murid-muridnya menuliskan apa yang dikerjakan oleh ibu kita, tapi saya malu, bu. Saya benar-benar malu masuk sekolah, bu... Karena saya benar-benar tahu ibu tidak bekerja....

Ibu: !!??!?#@^&*(%?!<)

Pemabuk dan Istighfar

PEMABUK DAN ISTIGHFAR


SI PEMABUK itu kini tampak sungguh-sungguh bertobat. Sarung hitam berlurik kotak-kotak melilit tubuhnya, piyama (kau menyebut baju koko) dan peci-semuanya berwarna putih mempermanis kehadirannya di mesjid ini.

Pada shaf ketiga di sudut kiri, ia bergeming. Pandangnya tak jalang, tatapnya tiada nyalang. Lurus ke bawah, persis pada sajadah di mana keningnya rebah saat sujud. Tak ada yang peduli pada si pemabuk itu-ia tampak kini sungguh-sungguh bertobat-yang setiap jamaah mesjid ini tahu padanya; mengenal siapa lelaki itu secara akrab seperti tahu pada diri sendiri. Si pemabuk itu terkenal amat karib berulah. Meski semua orang juga tahu kalau ia telah melunasi rukun kelima dari rukun Islam.

"Tapi sepulang dari Mekah bukan benar-benar tobat, tapi malah banyak bikin maksiat," sindir jamah yang juga masuk dalam jalajan pengurus mesjid. Ia lalu menggelari si pemabuk itu sebagai tomat: pergi ke Mekah karena tobat dan pulang kembali maksiat. "Haji tomat. Mau pergi tobat, sepulang haji malah kumat," sahut yang lain.

Si pemabuk itu acuh pada gunjingan tetangga, apatah lagi jemaah mesjid yang acap meliwati warung Ali tempat ia biasa nongkrong menenggak alkohol. Ia juga tetap bergeming meski terlalu sering orang yang bergunjing sampai ke telinganya. Ia berpikir, selagi ia tak meminta uang atau memeras orang lain, tak jadi soal benar gunjingan itu. Kata guru mengajinya waktu ia kecil masih selalu diingatnya dan tak akan pernah hilang dalam kenanganya: "Lebih baik pemabuk yang kemudian bertobat sehingga disebut bekas pemabuk, daripada bekas ustad karena tergelincir ke lubang maksiat."

Guru mengajinya yang lain (maklum ia kerap berganti guru mengaji karena alasan bosan atau ingin banyak menimbu ilmu agama dari banyak guru) pernah bercerita lalu menyimpulkan: "Seorang pelacur akhirnya dimasukkan ke surga oleh Tuhan hanya karena ia telah menolong seekor anjing yang nyaris mati kehausan."
***


Pada hari lain, guru mengaji yang lain lagi, juga bercerita di sela jeda anak-anak istirahat mengaji, bahwa pernah terjadi di zaman nabi seorang pembunuh yang telah membunuh 99 orang lalu ia bertobat. Akan tetapi, sebelum ia sempat memasuki mesjid ia meninggal. Lalu malaikat menghitung jumlah langkah dari pertama kali ia berniat untuk bertobat dengan jarak mesjid. "Ternyata pembunuh itu lebih dekat pada mesjid saat Tuhan mengambil nyawanya. Jadi, Tuhan tak pernah alpa dan lalai mencatat setiap niat seseorang. Mereka itu mati dalam keadaan khusnul khotimah. Tahu artinya khusnul khotimah?" ustad mengajukan pertanyaan. Hanya si pemabuk yang tahu artinya dan menjawab: "Meninggal dalam keadaan (berbuat) baik, Ustad!"

Ustad mengangguk. Tersenyum. Sebatang lidi yang semula tegak dan siap mengelus kulit para santri kembali ditarik dan diletakkan di sebelah ustad. Semua santri riang-gembira. Tapi, para santri tak bisa mengerti, menginjak remaja sahabatnya itu lupa pada khalaqoh, tak pernah lagi membuka Alquran, enggan bersarung dan berpeci. Apalagi begitu ia merantau ke kota dan beristri perempuan kota, kemudian mengambil rumah di kompleks perumahan sangat sederhana (RSS). Mungkin karena acap bergaul dengan orang-orang kota ia pun sudah melupakan aroma kampung, tempat pengajian, bahkan juga surau yang memang sulit ditemui di kota besar.

"Kau sudah sangat lain sekarang," tukas sohibnya di kampung dan bersama-sama belajar mengaji dengan ustad Mustofa Bisri. "Jangan-jangan di rumahmu sudah tak lagi menyimpan Alquran?"

"Ini kota besar, kawan!" ia menyela. "Kalau aku masih tinggal di kampung, sudah lama aku mati. Mungkin kau hanya ingat namaku, tapi tak pernah melihatku lagi. Aku akan mati kelaparan!"
"Apakah begitu, semua orang kota berpikiran seperti itu?" sohibnya berujar.
Ia diam. Kembali menenggak air alkohol dalam seteguk habis.
"Sudahlah, tak perlu berkhotbah. Kalau kau mau, silakan minum pula."

"Kalau cuma minum, jangankan sebotol tapi sepeti pun aku bisa habiskan tanpa mabuk. Tapi apa untungnya bagiku?" tantang sohibnya, kemudian ingin beranjak. Tetapi, si pemabuk memegang kerah baju sohibnya itu dari belakang. Ia hendak meninju wajah temannya, tapi rekannya semasa kecil lebih cepat memuntahkan tinjunya ke wajah si pemabuk hingga terhuyung. "Selamat menikmati perihmu itu, dan itu belum seberapa"

Ia tak dendam. Meski sejak itu ia tak lagi berjumpa sohibnya semaca kecil dan sama-sama berguru dengan ustad Mustofa Bisri, Haji Zawawi, dan Kiyai Kromo.

* * *

SI PEMABUK itu ternyata sudah berkali-kali menginap gratis di balik jeruji. Keluar masuk bui karena mabuk maupun digaruk saat berpesta di rumah bordil sudah jadi langganannya. Tetapi, ya tetapi, ia tak pernah jera. Apalagi kemudian ia berkawan dengan keponakannya yang wartawan-juga pemabuk-dan "menguasai" beberapa tempat hiburan malam, makin jauh saja ia pada kehidupan surau. Kehidupannya menjadi-jadi. Kacau. Ia memilih hidup menggelandang setiap malam daripada pulang menemui istrinya dan berpelukan. Hingga 20 tahun ia berumah tangga, belum juga dikuriania anak.

Itulah yang menyebabkan ia merasa kesepian jika tinggal di rumah. Hanya istrinya yang mulai tua dan tak lagi menarik wajahnya seperti saat ia sunting dulu yang menemaninya.. "Mungkin ia kecewa pada rumah tangganya," seloroh tetangga sebelah rumahnya.
"Ia bermabuk-mabuk karena ingin lari dari kenyataan!"
"Tapi itu salah, ia tak bisa bersembunyi dari realita!"
"Mungkin juga baginya itu yang membahagiakannya."
"Cuma, cara seperti itu jelas semu."
"Ya." Yang lain mengangguk.

* * *

SI PEMABUK itu yang telah menenggelamkan nama sesungguhnya yakni Aulianuddin, kini membuat semua orang di kompleks perumahan itu terpengarah. Pada Ramadhan tahun ini ia sambangi mesjid setiap jelang Isya hingga usai tarawih. Bersarung hitam lurik kotak-kotak, berpiyama dan berpeci warna putih, tak ketinggalan pula sorban ala pejuang Palestin melilit lehernya hingga ke dada.

Ia tampak khusyuk. Tidak pernah berpaling ke kiri dan kanan, kecuali untuk mengucap salam setiap habis rakaat terakhir. Setelah itu ia kembali tenggelamkan wajahnya ke bawah, jemarinya bergerak bagai menari di antara biji-biji tasbih, bibirnya bergerak meski amat lambat. Ia pasti sedang berzikir. Menyebut asma-asma Allah. Usai tarawih, ia pun keluar mesjid tanpa menyapa siapa pun.
"Syukurlah kalau ia sudah bertobat."
"Semoga ia khusnul khotimah."
"Husts," seseorang mengingatkan. "Pak Aulianuddin itu masih jauh bau tanah. Ia masih muda!"
"Aku tak mendoakan dia cepat mati."

Si pemabuk itu bergeming pada bisik-bisik jamaah mesjid. Ia acuhkan semua gunjingan. Ia berpikir, ia tak mengganggu orang lain. Ke mesjid itu ia hanya ingin salat berjamaah, bukan mengemis atau merampas pahala jamaah lain. Ia hendak mengadu, selain mengenang masa anak-anak di kampung saat bulan Ramadhan ia habiskan waktu malamnya di surau: tarawih, tadarus, solat wajib, dan amal sunah lainnya.

"Kadang aku juga rindu suasana seperti di kampung dulu, apakah salah?" ia beralasan ketika Ali-pemilik warung rokok dan minuman alkohol di sudut gang-merasa heran ketika melihat perubahan dirinya. "Suatu ketika, entah kapan, kau pun akan mengalami hal yang sama. Apakah kau salah?"
"Tidak juga."
"Karena itu, apa yang kulakukan ini benar kan?"
"Benar. Sangat benar," cetus Ali. "Hanya saja, abang cepat sekali berubah. Itulah yang membuatku terheran-heran."

"Kau tak pernah mendengar cerita tentang orang yang telah membunuh 99 orang lalu ketika hendak menggenapkan 100 orang ia tobat, tapi sebelum ia mewujudkan niatnya dengan perbuatan ke 100 ia keburu mati. Malaikat pun menghitung langkahnya, ternyata ia lebih dekat pada perbuatan baik maka ia pun dimasukkan ke surga. Begitu pula kisah seorang pelacur yang telah menolong seekor anjing kehauasan, maka karena kebaikannya itu terhapuslah dosa-dosanya."
"Ah!" Ali hanya mendesah. Mungkin terpana, mungkin pula tak percaya.

* * *

PADA malam ke 11 tarawih, kami kehilangan si pemabuk. Ia tak terlihat di shaf biasa ia solat. Hampir setiap jamaah yang tahu dan mengenal Aulinuddin mencari-cari. Saling berpaling ke kiri-kanan atau pun belakang, sudut kanan mesjid. Tapi tetap tiada. Si pemabuk itu dipastikan tak lagi ke mesjid untuk berjamaah salat Isa dan tarawih.
Ke mana gerangan? Jamaah mesjid bertanya-tanya.

Usai tarawih salah seorang jamaah menyambangi warung Ali, bertanya apakah melihat si pemabuk. Ali hanya menggeleng. Ia mengaku tak melihat si pemabuk itu. Bahkan ia mengira, Aulinuddin di dalam mesjid: masih bertasbih ataupun tadarus. "Tadi ia berbuka puasa di sini, lalu saya tak tahu ke mana ia pergi."
"Apa ia bersarung dan berpeci?" selidik jamaah mesjid ingin tahu lebih jauh.
"Hanya pakai kopiah."
"Ohhh"

Tiba-tiba Ali menuding telunjuknya. "Itu dia Bang Aulia!" kemudian ia memanggil, "Bang Bang Aulia, sini, dari mana?!"
Si pemabuk itu mendekat. Wajahnya tetap tertunduk.

"Ada apa? Memangnya mengapa?" ia balik tanya begitu dekat. Kini wajahnya tegak. Menatap Ali dan salah seorang jamaah mesjid yang tadi mencarinya.

"Ah, tidak. Tidak apa-apa, cuma kami merasa kehilangan, ketika bang Aulia tidak tarawih di mesjid. Mungkin abang sibuk di kantor atau ada kerjaan di rumah?" jawab jamaah mesjid.

"Hanya itu?" sinis si pemabuk. "Saya pikir, saya bukanlah apa-apa dan tak memberikan apa pun sebagai jamaah. Saya tak dihitung jika datang, dan tak merasa hilang kalaupun absen. Saya hanyalah si pemabuk yang mengemis untuk diakui telah bertobat. Tetapi tak satu pun jamaah yang acuh, bahkan saya merasa dikucilkan. Layaknya seekor anjing kudis yang lapar dan haus di dekat bak sampah yang telah kosong karena baru saja diangkut isinya ke dalam truk. Dan anjing itu nyaris mati karena kelaparan dan haus, tapi tak satu pun manusia yang peduli"

"Begitukah abang mengganggap kami?" suara jamaah masjid itu bergetar. "Abang salah terka, abang terlalu jauh menafsir. Bahkan kami tak hendak membuat bang Aulia tersinggung lalu tak hendak lagi ke mesjid jika kami menyapa atau mengacuhkan, maka itu kami seperti mendiamkan abang."

"Saya merasa tak ada artinya di hadapan jamaah. Saya merasa diri saya sangatlah kotor, pendosa, yang tak pantas beriba lagi. Semua mata jamaah saya rasakan selalu menujah dan menguliti seluruh isi yang ada di dalam tubuh saya. Seakan hendak menghakimi saya," katanya. "Padahal Tuhan saja tak memedulikan apakah yang datang padanya hamba yang kotor dan pendosa, karena di hadapan Tuhan hanyalah niat, iman, dan keikhlasan untuk beribadah. Dan, saya sudah niatkan untuk beribadah. Saya hanya pertaruhkan iman saya di hadapan Tuhan, saya pun sudah ikhlas untuk berserah semata kepada-Nya. Tapi."

"Abang salah kalau berpikiran seperti itu. Abang sudah terlalu jauh menafsir, tapi sayang tidak tepat dan malah berakibat suudzon. Percayalah bang, kami tak seburuk apa yang disangkakan abang. Kalau kami begitu takabur namanya, kami juga merasa tak lebih bersih dan suci dibanding abang."
"Tapi."

"Rasulullah saja yang sudah dijamin masuk surga, ia masih selalu beribadah dan berdoa meminta agar di masukkan surga. Itu artinya, sebagai manusia, ia meyakini pernah khilaf dan silaf. Apalagi kita yang hanya pengikutnya, yang jauh dari sahabat atau orang-orang salaf," tekan jamaah mesjid itu meyakini si pemabuk itu.

"Tapi, saya sudah merasa menemukan apa yang saya idamkan sebagai jamaah bukan di mesjid ini, melainkan di mesjid seberang. Meski saya harus mengayunkan kaki saya sejauh 2.000 meter tak jadi masalah, semoga itu tabungan untuk menambah amal saya. Saya meyakini setiap perbuatan mesti selalu dibarengi dengan perjuangan dan pengorbanan, mungkin sebagai jihad saya di jalan-Nya, insya Allah"

"Amin," imbuh jamaah mesjid. Tiba-tiba ia melihat tubuh si pemabuk itu tampak layu dan pipih. Dan, ia terlambat bergerak untuk menahan tubuh yang berdiri di depannya itu ketika luruh. Tubuh pemabuk itu terjerembab, menggelepar sekejap dan diam.

Semua orang tahu bahwa pemabuk itu belakangan sering sakit-sakitan. Ia komplikasi: paru-paru, darah tinggi, terganggu jantung, dan ginjal. Ali segera menyetop angkutan kota. Beberapa orang menggotong dan menaikkan si pemabuk ke atas mobil. Yang lain mengabari istri si pemabuk di rumah agar menyusul ke rumah sakit. Jamaah tarawih yang baru keluar dari mesjid berkerumun, saling tanya dan saling jawab. Cuma, sepertinya mereka sepakat-setidaknya doa dan pengharapan mereka-meski Aulianuddin mati di depan warung tempat biasa mabuk, nasibnya sama dengan kisah pembunuh 99 orang maupun pelacur penolong seekor anjing.

7.02.2009

Facebook Haram?

Facebook Haram?


KOMPAS.com — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan (Kalsel) Prof H Asywadie Syukur Lc berpendapat, keberadaan Facebook (salah satu sarana komunikasi lewat dunia maya) bisa haram dan tidak.

Mantan Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin itu nampaknya berhati-hati dalam mengeluarkan pendapat mengenai Facebook yang belakangan ramai menjadi pembicaraan di berbagai kalangan di Indonesia, demikian dilaporkan, Minggu (24/4).

"Kita tidak bisa memfatwakan Facebook itu haram atau sebaliknya, kecuali melihat kontekstualnya," kata alumnus Universitas Al Azhar Kairo Mesir itu.

Guru Besar IAIN Antasari tersebut mengingatkan tuntutan agama Islam, yang antara lain menyatakan, segala sesuatu tergantung atau bermula dari niat orang itu.

Sebagai contoh, pemanfaatan Facebook dalam rangka berkomunikasi guna menggali atau tukar ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat, hal itu tidak bisa dibilang haram.

Namun, bila pemanfaatan Facebook untuk berkomunikasi dalam hal-hal yang terlarang, baik secara hukum positif di Indonesia, maupun menurut norma-norma Islam, maka penggunaan sarana tersebut bisa dikategorikan haram.

"Hal tersebut sama saja dengan kita memakai sepeda motor. Kalau tujuan baik dan benar, maka tak ada larangan menggunakannya, tapi sebaliknya, bila untuk tujuan negatif atau dimanfaatkan dalam melakukan perbuatan jahat, maka hukum Islam pun tak membolehkan," ujarnya.

"Jadi kalau saya pribadi melihat kedudukan Facebook itu haram atau tidak, maka akan kita lihat dari segi manfaat dan mudarat. Kalau manfaatnya lebih besar untuk kebajikan atau kemaslahatan umat, maka pemanfaatan Facebook bagi kaum Muslim boleh-boleh saja. Tapi sebaliknya jika negatif, maka itu haram," ungkap Asywadie Syukur.



Facebook Haram?


Guru Besar IAIN Antasari tersebut mengingatkan tuntutan agama Islam, yang antara lain menyatakan, segala sesuatu tergantung atau bermula dari niat orang itu.

Sebagai contoh, pemanfaatan Facebook dalam rangka berkomunikasi guna menggali atau tukar ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat, hal itu tidak bisa dibilang haram.

Namun, bila pemanfaatan Facebook untuk berkomunikasi dalam hal-hal yang terlarang, baik secara hukum positif di Indonesia, maupun menurut norma-norma Islam, maka penggunaan sarana tersebut bisa dikategorikan haram.

"Hal tersebut sama saja dengan kita memakai sepeda motor. Kalau tujuan baik dan benar, maka tak ada larangan menggunakannya, tapi sebaliknya, bila untuk tujuan negatif atau dimanfaatkan dalam melakukan perbuatan jahat, maka hukum Islam pun tak membolehkan," ujarnya.

"Jadi kalau saya pribadi melihat kedudukan Facebook itu haram atau tidak, maka akan kita lihat dari segi manfaat dan mudarat. Kalau manfaatnya lebih besar untuk kebajikan atau kemaslahatan umat, maka pemanfaatan Facebook bagi kaum Muslim boleh-boleh saja. Tapi sebaliknya jika negatif, maka itu haram," ungkap Asywadie Syukur.



Fenomena Facebook


Fenomena Facebook

Facebook adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004dan didirikan oleh Mark Zuckerberg , seorang lulusan Harvard. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari Harvard College. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat e-mail dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs jejaring sosial ini.
Facebook, telah menyita perhatian sebagian pengguna layanan internet terutama Indonesia. Pengusaha, Pejabat, Artis, Mahasiswa, Pelajar, bahkan kalangan ke bawah pun mengenal facebook. Beberapa fitur unggulan facebook diantaranya fasilitas obrolan, pemberitahuan aktivitas yang demikian cepat, serta berbagai fitur lain yang membuat-nya lebih diminati daripada situs jejaring sosial lainnya yang lebih dulu muncul, seperti hi5, friendster, twitter, dan banyak yang lain.



Dari beberapa teman pengguna layanan internet yang berhasil saya hubungi (atas pertanyaan: Apa kelebihan facebook dibanding jejaring sosial yang lain?) didapat hasil :

* Icha : Bisa ngobrol langsung dan aksesnya cepet
* Ayu : "Pemberitahuan terhadap comment status cepet nyampe"
* Angga : Pokoknya top deh...!
* Yan : Bisa share video, dan foto dengan cepat...!

Intinya fitur-fitur populis tersebut yang telah membuat pengguna beralih ke facebook...

Welcome to Facebook.

Deni Arfian in Facebook

6.27.2009

Cara Merubah Tampilan Layout Facebook

Photobucket

Bosan dengan tampilan facebook yang begitu-gitu saja tanpa variasi, tidak seperti friendster, Hi5, myspace ataupun jejaring sosial yang lain yang bisa kita kostumisasi sesuai dengan kemauan kita. Kalau begitu coba yang satu ini, dengan cara ini kita dapat mengganti tampilan halaman facebook menjadi lebih bagus dan yang paling penting bisa dikostumisasi sendiri.

Aritkel ini saya buat untuk Anda yang suka dengan kostumisasi tampilan dan sekaligus memenuhi kebutuhan beberapa pengunjung yang menuju keblog ini melalui google dengan keyword tentang :
-cara mengganti layout facebook
-tutorial mengganti layout facebook
-merubah tampilan facebook
-mengubah tampilan facebook

Dan ternyata banyak sekali yang mencari artikel tentang tampilan facebook. Setelah beberapa penelusuran website, blog dan group-group yang berisi tentang tutorial
mengganti layout facebook, saya menemukan 2 cara berbeda:




1. Merubah tampilan layout facebook dengan cara userstyles.org (untuk penguna mozila firefox)


-download add-ons mozzila

-klik "add to firefox", installasi and restart mozilla firefox

-pilih tampilan yang diinginkan disini

-klik tombol "Load into Stylish"

-save dan refresh halaman facebook Anda



2. Merubah tampilan layout facebook dengan cara yontoo.com (untuk penguna mozila firefox dan internet explorer)


-kunjungi website Yontoo

-pilih "Start Installation"

-install Add-ons dan restart mozila

-pasang aplikasi PageRage di facebook

-pilih tampilan yang diinginkan

-lihat profile anda

Cara pertama hanya bekerja pada komputer sendiri yang sudah diinstal add-on stylish
dan
Cara kedua hanya bekerja pada pada komputer yang sudah diinstal add-on Yontoo dan pemilik facebook memasang aplikasi pagerage. Hal ini memungkinkan orang lain dapat melihat tampilan facebook kita jika mereka melakukan hal yang sama.

Ingat! Sampai saat ini masih belum ada cara mengubah tampilan facebook untuk dilihat semua orang. Ingat Facebook tidak sama seperti Myspace/Friendster yang secara resmi dapat mengubah tampilannya sesuai dengan keinginan kita. Cara ini hanya akal-akalan dari pencipta add-on yang kreatif.



6.24.2009

KRI

Kontrol PWM motor dengan ADC pada robot manual KRI (KONTES ROBOT INDONESIA pada AVR mega


Mengendalikan motor kanan dan kiri dengan menggunakan potensiometer.
gambar rangkaiannya.
(gambar adcdr)
















potensiometer untuk roda kiri diletakkan di PORTA.0
potensiometer untuk roda kanan diletakkan di PORTA.1

enable maju untuk roda kiri diletakkan di PORTD.0
enable mundur untuk roda kiri diletakkan di PORTD.1
PWM untuk roda kiri diletakkan di PORTD.2

enable maju untuk roda kanan diletakkan di PORTD.3
enable mundur untuk roda kanan diletakkan di PORTD.4
PWM untuk roda kanan diletakkan di PORTD.5

#include
#define pwmki PORTD.2
#define pwmka PORTD.5
#define ADC_VREF_TYPE 0×00
unsigned char adcki,adcka;
// Read the AD conversion result
unsigned int read_adc(unsigned char adc_input)
{
ADMUX=adc_input|ADC_VREF_TYPE;
// Start the AD conversion
ADCSRA|=0×40;
// Wait for the AD conversion to complete
while ((ADCSRA & 0×10)==0);
ADCSRA|=0×10;
return ADCW;
}

// Declare your global variables here

void main(void)
{
// Declare your local variables here

// Input/Output Ports initialization
// Port A initialization
// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In Func0=In
// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T
PORTA=0×00;
DDRA=0×00;

// Port B initialization
// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In Func0=In
// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T
PORTB=0×00;
DDRB=0×00;

// Port C initialization
// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In Func1=In Func0=In
// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T State1=T State0=T
PORTC=0×00;
DDRC=0×00;

// Port D initialization
// Func7=Out Func6=Out Func5=Out Func4=Out Func3=Out Func2=Out Func1=Out Func0=Out
// State7=0 State6=0 State5=0 State4=0 State3=0 State2=0 State1=0 State0=0
PORTD=0×00;
DDRD=0xFF;

// Timer/Counter 0 initialization
// Clock source: System Clock
// Clock value: Timer 0 Stopped
// Mode: Normal top=FFh
// OC0 output: Disconnected
TCCR0=0×00;
TCNT0=0×00;
OCR0=0×00;

// Timer/Counter 1 initialization
// Clock source: System Clock
// Clock value: Timer 1 Stopped
// Mode: Normal top=FFFFh
// OC1A output: Discon.
// OC1B output: Discon.
// Noise Canceler: Off
// Input Capture on Falling Edge
// Timer 1 Overflow Interrupt: Off
// Input Capture Interrupt: Off
// Compare A Match Interrupt: Off
// Compare B Match Interrupt: Off
TCCR1A=0×00;
TCCR1B=0×00;
TCNT1H=0×00;
TCNT1L=0×00;
ICR1H=0×00;
ICR1L=0×00;
OCR1AH=0×00;
OCR1AL=0×00;
OCR1BH=0×00;
OCR1BL=0×00;

// Timer/Counter 2 initialization
// Clock source: System Clock
// Clock value: Timer 2 Stopped
// Mode: Normal top=FFh
// OC2 output: Disconnected
ASSR=0×00;
TCCR2=0×00;
TCNT2=0×00;
OCR2=0×00;

// External Interrupt(s) initialization
// INT0: Off
// INT1: Off
// INT2: Off
MCUCR=0×00;
MCUCSR=0×00;

// Timer(s)/Counter(s) Interrupt(s) initialization
TIMSK=0×00;

// Analog Comparator initialization
// Analog Comparator: Off
// Analog Comparator Input Capture by Timer/Counter 1: Off
ACSR=0×80;
SFIOR=0×00;

// ADC initialization
// ADC Clock frequency: 156,250 kHz
// ADC Voltage Reference: AREF pin
// ADC Auto Trigger Source: None
ADMUX=ADC_VREF_TYPE;
ADCSRA=0×86;

while (1)
{
// Place your code here
adcki=read_adc(0);
adcka=read_adc(1);
if(adcki>128)
{
pwmki=(adcki-128)*2;
PORTD.0=1;PORTD.1=0;
}
if(adcki<=128) pwmki=(255-adcki)*2; PORTD.0=0;PORTD.1=1; if(adcka>128)
{
pwmka=(adcka-128)*2;
PORTD.3=1;PORTD.4=0;
}
if(adcka<=128) { pwmki=(255-adcka)*2; PORTD.3=0;PORTD.4=1; } }; }

For Friend

Untuk Sahabat

sobat jalan yang pernah kita tempuh
ada lah jejak langkah yang tertinggal
diantara puing2 sisa kehancuran
di tanahku yang malang

sobat ...
masih kuingat jelas
wajah gadis yang dulu pernah kita kejar
seperti kita kejar bola kaki

sobat...
dalam kegalauan..
masih kuingat canda tawamu
lewati hari yang kita lalui

sobat....
sampai akhir hayatmu
tak sempat kuucap sepatah kata pun
walau itu...
walau itu cuma di hatiku
tak sempat sobat...
selembar photo kita
masih tersimpan rapi di dompetku
cara terbaik untuk ingat dirimu
diantara kepingan tsunami yang telah berlau
do'a ku untuk mu bahagia lah disana

innalillahi wainna ilaihi raji'un.............

6.10.2009

Cleopatra

Pudarnya Pesona Cleopatra

Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.

“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu”, ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya.

Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bias berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.

Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.

Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.

Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang

bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.

Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia. Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.

“wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah.

Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.

Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu.

” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angina diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih.

” Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadismesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat pukul 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.

Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. ” Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.

Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bias dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dielukelukan keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”.

Hana begitu bahagia.

Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memakimaki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu?

Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini. Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. “Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga!” Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain.

Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.

Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya.

Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. ”Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. ” Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku.

Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku.

Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.

Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.

Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan.

Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntahmuntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku nggak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab.

Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ”Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. ” Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ”Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa terjadi?”. “Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predikat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantik itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, samasama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin.

Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali namun Yasmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengen rendang, saya harus ke warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.

Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya.

Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut.

Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong.

Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.

Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati.

Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya.

Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan ya Rabbii ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.

Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.

“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.

Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.

Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya.

Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya.

Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.

Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.

” Raihana…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya” . ” Ada apa dengan dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya” .

Hatiku bergetar hebat. ” kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami”.

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana.

Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ……..